EPISTEMOLOGI MISTIS DAN SUFISTIK
Mistis adalah pengetahuan yang tidak rasional, yaitu pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan indera atau rasio. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio. Dalam Islam yang termasuk pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan tasawuf. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa dan hati. Yang menjadi objek pengetahuan mistis ialah objek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib, Tuhan, malaikat, surga, neraka dan jin. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistis adalah latihan yang disebut dengan riyadhah (latihan), dari situlah manusia dapat memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan.
A. Epistemologi Pengetahuan Mistis
Bagaimana pengetahuan mistis diperoleh? Objek empiris dapat diketahui sains, objek abstrak-rasional dapat diketahui filsafat, sisanya, yaitu yang abstrak-supra-rasional diketahui dengan apa? Mistis di sini bukan lagi kata sifat tetapi nama, sejajar dengan sains dan filsafat. Pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa. Sehingga hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh indera dapat diterima oleh hati dan rasa.
B. Mistisisme dalam Islam
Mistisisme dapat ditemukan dalam Islam melalui jalan tasawuf dan oleh kaum orientalis Barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis Barat khususnya dipakai untuk mistisme Islam. Sufisme tidak dipakai untuk mistisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Tasawuf adalah istilah yang berkembang di dunia Arab. Sementara sufisme lebih populer di Barat, yang dinisbahkan kepada seorang pelaku tasawuf, sufi. Tujuannya pun satu, dan sama dengan tujuan syari‟at, yaitu kesalehan batin dan perilaku dengan berbagai maqamnya, yang menjadikan sufisme menyimpang adalah ketika salah satu maqamnya, wihdatul wujud, berkembang ke arah ittihad atau hulul, yang kemudian lebih sering berkaitan dengan sinkrestisme. Ini, yang menyalahi tauhid.
C. Epistimologi Sifistik
Arti sufistik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bersifat atau beraliran sufi, berkaitan dengan ilmu tasawuf. Mengenai asal kata tasawuf, terdapat banyak pendapat diantaranya berasal dari kata shafa (bersih), shufi (orang yang hatinya tulus dan bersih), shuffah (serambi masjid yang ditempati sahabat nabi), dan suf (kain yang terbuat dari bulu atau wool). Dari beberapa pendapat itu, pendapat yang mengatakan sufi berasal dari kata suf adalah pendapat yang paling disetujui karena mereka menganggpa dengan mengenakan pakaian sederhana itu, kaum sufi merasa terhindar dari sifat ria’ dan lebih menunjukkan kezuhudan.
Pendekatan sufistik dalam studi islam adalah sebuah paradigma yang memusatkan pada kajian tentang pembersihan jiwa manusia, yang kemudian digunakan untuk memahami dan mengatasi suatu permasalahan tertentu. Sufistik sebagai pendekatan memiliki karakteristik diantaranya, tema-tema yang diangkat selalu berhubungan dengan nilai akhlak yang abstrak, berhubungan dengan jiwa manusia, berbicara tentang pemikiran para tokoh tasawuf, dan berbicara tentang solusi pembersihan jiwa menurut ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah.
D. Pengaruh Sufistik Dalam Dunia Modern
Modernitas tidak hanya menghadirkan dampak positif, namun juga dampak negatif. Modernitas terus bergerak tanpa memperdulikan timbulnya dampak dibalik gerakannya. Modernitas yang merupakan kristalisasi budidaya manusia adalah keharusan sejarah yang tak terbantahkan dan tidak bisa dihindarkan bagi setiap manusia, oleh karenanya kita juga perlu membuat proteksi dari berbagai dampak negatif yang timbul karenanya. Dalam kondisi demikian, agama merupakan satu tawaran dalam kegersangan dan kehampaan spiritualitas manusia modern. Seperti kita ketahui, kondisi kekinian dan serba modern telah membawa orang jauh dari Tuhannya. Oleh karenanya diperlukan jalan untuk membawanya kembali yaitu dengan menginternalkan nilai-nilai spiritual (dalam islam disebut tasawuf) atau membumikannya dalam kehidupan masa kini. Tasawuf merupakan solusi alternatif terhadap kebutuhan spiritual dan pembinaan manusia modern yang data menghantarkan manusia menuju kesempurnaan dan ketenangan hidup yang hampir hilang atau bahkan tidak pernah dipelajari oleh manusia modern.
Komentar
Posting Komentar