FENOMENOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN STUDI KEISLAMAN

Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu phainomenon yang berarti sesuatu yang tampak, dan logos atau ilmu. Jadi, fenomenologi merupakan gejala atau apa yang menampakan diri pada kesadaran kita. Istilah fenomenologi pertama kali diperkenalkan oleh Edmund Husserl, seorang filsuf asal Jerman yang juga dikenal sebagai Bapak Fenomenologi pada awal abad ke-20 yang kemudian dikembangkan oleh para penerusnya di Gottingen dan Munich in Germany hingga bisa menyebar ke banyak negara. Fenomenologi lahir dan digunakan dalam studi agama sebagai sebuah metode penelitian ilmiah melawan pendekatan – pendekata teologis.

Sejarah kemunculan awal fenomenologi berkembang pada abad ke-15 dan ke-16. Saat itu, terjadi perubahan terbesar dalam diri manusia terkait perspektif tentang dirinya. Pada masa sebelumnya, manusia cenderung memandang segala sesuatu dari sudut pandang ketuhanan. Kemudian, gelombang modernitas yang muncul berhasil mengubah cara pandang tersebut. Banyak filsuf yang pada akhirnya menentang doktrin – doktrin gereja. Saat itulah, masa pencerahan Eropa dimulai. Jadi, teori fenomenologi hadir sebagai perlawanan dari teori sebelumnya yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang ketuhanan.

Pendekatan fenomenologi berusaha untuk mendapatkan gambaran utuh juga esensi dibalik fenomena keberagaman manusia. Usaha ini tidak lain untuk mengembalikan studi agama yang bersifat historis-empiris ke dasarnya agar tidak melampaui batas.

Pendekatan fenomenologi mempunyai dua karakteristik dasar. Pertama, fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama orang lain dengan perpektif netralis dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk melakukan rekontruksi dalam dan menurut orang lain tersebut. Sederhananya, ini merupakan tindakan menanggalkan diri sendiri (epoche) dalam upaya menghidupkan pengalaman orang lain dengan memposisikan diri sebagai orang lain tersebut dan menggunakan sudut pandangnya. Kontibusi terbesar fenomenologi adalah adanya norma yang digunakan dalam studi agama berdasarkan pengalaman dari pemeluk agama itu sendiri. Hal paling penting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami pemeluk agama termasuk didalamnya apa yang ia katakan, rasakan, dan kerjakan serta bagaimana pengalaman itu bermakna baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau relasi social bagi dan dalam keberagamaan pelaku.

Metode Burhany Merupakan metode berfikir yang didasarkan pada keruntutan logika dan akal, tidak didasarkan pada teks maupun pengalaman. Metode ini dijadikan oleh kaum rasional muslim (filsuf dan teolog) sebagai salah satu metode ilmiah untuk dapat menemukan teori teori rasional secara ilmiah. Burhani menyadarkan diri kepada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Bahkan dalil-dalil agama hanya bisa diterima sepanjang ia sesuai dengan logika rasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOSIOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN KAJIAN KEISLAMAN

PLURALISTIK RELIGIUS

SUMBER MATERIIL PRAKTEK KEHIDUPAN ISLAMI