KAJIAN HISTORIS SEBAGAI PENDEKATAN DALAM KAJIAN KEISLAMAN

 PENDEKATAN HISTORIS

Pendekatan historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau secara sistematis, bahwa pendekatan historis dalam kajian islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Pendekatan kesejarahan sangat dibutuhkan dalam studi Islam, karena Islam datang kepada seluruh manusia dalam situasi yang berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatannya masing-masing. Yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan histories sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.

STUDI ISLAM MASA KLASIK

Menurut Prof. Dr. Nasution, sejarah Islam secara umum dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu  Periode klasik, yang dimulai (650-1250 M) yang digambarkan sebagai era umat Islam mencapai prestasi-prestasi (puncak kejayaan). Periode pertengahan dimulai sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah (1250-1800 M), dengan ciri-ciri kekuasaan politik terpecah-pecah dan saling bermusuhan, atau dikenal dengan masa stagnasi pemikiran Islam. Dan periode modern (1800 sampai sekarang) yang dikenal dengan era kebangkitan Islam.

Pada periode klasik (650-1250 M), Islam mengalami dua fase penting :

  1. Fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan (650-1000 M). 

Pada fase inilah Islam di bawah kepemimpinan para khalifah mengalami perluasan pengaruh yang sangat signifikan, ke arah barat melalui Afrika Utara Islam mencapai Spanyol dan ke arah Timur melalui Persia, Islam sampai ke India. 

  1. Fase disintegrasi (1000-1250 M)

Fase ini ditandai dengan perpecahan dan kemunduran politik umat Islam hingga berpuncak pada terenggutnya Baghdad oleh bala tentara Hulagu di tahun 1258 M. 


STUDI ISLAM MASA MODERN


Kata modern berasal dari kata “moderna” yang artinya “sekarang”. Istilah modern digunakan untuk suatu yang mengandung arti, pikiran, aliran, atau paradigma baru, yang mana istilah ini disesuaikan untuk suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan, baik kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Modernisasi di dunia Barat pada abad ke-17 membawa pembaharuan dibidang ilmu pengetahuan, tetapi Dunia Islam sendiri menunjukkan kemunduran yang progresif. Hal ini bisa terhenti karena pada abad ke-19, para pemikir Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyed Ahmad Khan, Ameer Ali dan Muhammad Iqbal sadar akan kemunduran Islam dan memulai pergerakan dengan cara mereka masing-masing yang bertujuan untuk pembaharuan pandangan hidup Islam yang pada saat itu dikuasai oleh pemikiran Barat. 

  1. Perkembangan Pemikiran Islam Pada Masa Modern

Munculnya pemikiran modern Islam didorong oleh munculnya kesadaran pembaharuan karena Islam cahaya Islam redup secara progresif pada saat kejayaan pemikiran barat, lahirnya masa Renaissance (masa pembaharuan) di Barat yang memunculkan pemikiran-pemikiran rasional-ilmiah yang melahirkan sains dan teknologi dan juga kondisi negara-negara Arab yang dikolonialisasi Barat, seperti Mesir dan Turki. Dengan adanya tiga latar belakang kesadaran pembaharuan ini, muncullah beberapa pemikir Islam yang memulai menghidupkan kembali pergerakan Islam.

  1. Bidang Perkembangan Islam Pada Masa Modern

  1. Bidang Akidah

Penggeraknya adalah Muhammad Abdul Wahab (1703-1787M) yang berasal dari Nejed, Saudi Arabia. Pemikiran Beliau bertujuan untuk memperbaiki kedudukan umat Islam yang didasari pada paham Tauhid yang pada saat itu telah tercampur aduk oleh ajaran tarekat. Pemikiran Muhammad Abdul Wahab adalah antara lain:

  1. Hanya Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber asli ajaran Islam

  2. Taklid kepada ulama yang dibenarkan

  3. Pintu ijtihad selalu terbuka.

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan

Islam adalah agama yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Islam juga mengajarkan bahwa bagi siapa yang berilmu, harus tetap rendah hati dan jangan cepat puas dengan ilmu yang diperoleh, seperti Firman Allah dalam Q.S Al-Luqman ayat 27 yang artinya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepada tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesunggunya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOSIOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN KAJIAN KEISLAMAN

PLURALISTIK RELIGIUS

SUMBER MATERIIL PRAKTEK KEHIDUPAN ISLAMI